//]]>

Iklan ats ertikel

Selasa, 15 Maret 2016

Menelusuri Padatnya Surabaya

Surabayaaa Reek! Kota Pahlawan yang Bikin Takjub

Alhamdulillah, akhirnya bisa juga menapakkan kaki di Kota Pahlawan—Surabaya! Kota yang dulu menjadi ujung tombak perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia ini benar-benar luar biasa. Sebagai anak kampung yang belum pernah jauh-jauh dari rumah, saya harus jujur: saya takjub banget!

Pertama kali menginjakkan kaki di Surabaya, saya langsung disambut pemandangan yang belum pernah saya lihat sebelumnya—gedung-gedung tinggi menjulang ke langit, jalan raya yang bercabang ke mana-mana, dan tentu saja, kuliner khas Surabaya yang menggoda selera!

Sebenarnya tujuan awal saya ke Surabaya cukup sederhana, yaitu menemani sahabat saya untuk memperbaiki handphone-nya di WTC Surabaya. Tapi rasanya sayang banget kalau jauh-jauh ke kota besar ini hanya untuk urusan servis HP. Jadi, kami pun memutuskan untuk menginap semalam di rumah saudara saya yang tinggal di daerah Kenjeran.

Dan inilah bagian paling seru—malam harinya kami diajak keliling kota Surabaya! Rasanya seperti mimpi. Kota ini hidup bahkan di malam hari. Lampu-lampu jalan yang terang, lalu lintas yang ramai tapi tertib, dan suasana kota yang modern tapi tetap ramah.

Tujuan pertama kami adalah ke taman ikonik Surabaya: Taman Bungkul. Tempat ini bukan hanya sekadar taman kota, tapi juga ruang publik yang nyaman untuk bersantai, menikmati kuliner, sampai nongkrong bareng teman-teman. Suasananya asyik banget, penuh dengan warga lokal maupun wisatawan yang datang untuk menikmati suasana malam Surabaya.

Perjalanan ini jadi pengalaman yang tak terlupakan. Sebuah petualangan kecil, tapi penuh makna. Surabaya tidak hanya menawarkan kemegahan kota, tapi juga meninggalkan kesan hangat bagi siapa saja yang datang.

Destinasi Kedua: Pasar Maling yang Legendaris

Setelah puas mengelilingi kota, kami melanjutkan perjalanan ke destinasi kedua, yaitu tempat yang namanya cukup unik dan bikin penasaran—Pasar Maling. Ya, namanya memang terdengar mencurigakan, bahkan misterius. Konon katanya, pasar ini dulunya dikenal sebagai tempat di mana para maling menjual hasil curiannya. Tapi apakah benar begitu? Jujur saja, kami juga tidak tahu pasti.

Namun satu hal yang jelas, pasar ini ramai luar biasa. Suasana padat merayap sudah terasa bahkan dari kejauhan. Deretan lapak berjejer di sepanjang jalan, dipenuhi oleh para pedagang dan pembeli yang silih berganti datang. Barang-barang yang dijual pun sangat beragam—dari elektronik, pakaian, sepatu, onderdil motor, hingga barang-barang bekas yang mungkin sulit ditemukan di tempat lain.

Meski namanya “Pasar Maling”, suasana di sana tidak terasa mencekam atau menakutkan. Justru sebaliknya, hidup dan penuh warna, seperti pasar-pasar rakyat pada umumnya. Banyak pemburu barang murah atau unik datang dari berbagai kota hanya untuk “berburu” harta karun tersembunyi di antara tumpukan barang bekas.

Kesan kami? Pasar ini bukan hanya tentang transaksi jual beli, tapi juga tentang cerita—tentang nama yang melegenda, tentang hiruk-pikuk kehidupan rakyat, dan tentang bagaimana pasar tradisional tetap menjadi denyut nadi ekonomi masyarakat.


Menutup Perjalanan dengan Singgah di Lumpur Lapindo

Pagi harinya, sekitar pukul 08.00 WIB, kami memutuskan untuk kembali pulang menuju Probolinggo. Namun sebelum benar-benar meninggalkan wilayah Surabaya dan sekitarnya, kami sepakat untuk singgah sejenak di Sidoarjo, tepatnya di kawasan yang sudah lama dikenal karena bencana alamnya: Lumpur Lapindo.

Dengan membayar tiket masuk sebesar Rp10.000, kami mulai menelusuri kawasan yang dulunya merupakan pemukiman penduduk, namun kini tertutup oleh hamparan lumpur yang luas dan pekat. Di kejauhan, terlihat beberapa atap rumah yang masih menyembul dari permukaan lumpur—diam dan sunyi, seakan menjadi saksi bisu dari peristiwa besar yang pernah mengguncang daerah ini.

Rasa haru dan keprihatinan langsung menyelimuti kami. Sungguh menggugah hati melihat jejak nyata dari dampak bencana tersebut. Apa yang dulu mungkin hanya kami lihat di televisi, kini ada tepat di depan mata. Ini bukan hanya tentang lumpur, tapi tentang kehilangan, tentang perjuangan hidup warga yang terdampak, dan tentang kekuatan untuk bangkit kembali.

Setelah sekitar satu jam berkeliling, kami pun memutuskan untuk melanjutkan perjalanan pulang ke Probolinggo tercinta. Alhamdulillah, tepat pukul 12.00 WIB, kami tiba di rumah dengan selamat, membawa pulang bukan hanya cerita, tapi juga pengalaman yang mengubah cara pandang kami tentang kehidupan dan perjuangan.




0 komentar:

Posting Komentar